Dari manakah asalnya rumus itu? Marilah kita buktikan rumus di atas. Untuk lebih
mudahnya, saya mencoba membuktikan untuk trapesium sama kaki.
Perhatikan bahwa
Blog ini berisi tentang masalah matematika yang sederhana, tetapi sangat mendasar. Isinya antara lain pembuktian rumus-rumus matematika yang jarang diketahui para siswa atau bahkan guru sekalipun. Selain itu juga ditampilkan matematika yang unuk, seperti angka berulang, hitungan unik, dan lain-lain
Perhatikan bahwa
Lingkaran memiliki rumus sebagai berikut :
Keliling = 2pR
Luas = pR2
Dengan nilai p »3,1415……
p diperoleh dengan membandingkan keliling dengan diameternya
p = K/d atau K = pd
Karena d = 2R maka K = 2pR
Perhatikan bahwa panjang busur AB adalah seperempat keliling lingkaran dan luas OAB adalah seperempat luas lingkaran. Nilai seperempat ini sebenarnya berasal dari 90o/360o, karena sudut AOB sama dengan 90o.
Jika sudut AOB kita ganti a
maka bentuk 90o/360o berubah menjadi a/360o
Perhatikan gambar berikut :
Dari gambar tersebut dapat
disimpulkan bahwa
L = ½ d1. d2
Dengan d1 adalah diagonal pertama dan d2 adalah diagonal kedua.
Tidak ada aturan bahwa d1 harus yang panjang atau yang pendek, begitu juga dengan d2.
Yang jadi masalah, dari mana asal rumus ini ?
Sebelum mencarinya maka kita perlu tahu apa definisi dari belah ketupat.
Belah ketupat adalah sebuah segi empat yang diperoleh dengan mempertemukan alas dua
segitiga sama kaki yang kongruen

Dari gambar di atas bisa dilihat bahwa a = d1 dan t = ½ d2
Karena luas segitiga adalah Ls = ½ at maka luas belah ketupat adalah
L = 2 Ls = at = d1. ½ d2 = ½ d1.d2
SEGERA TERBIT
"Buku MASTER SERI MATEMATIKA SMA"
PENERBIT ERLANGGA
(Kumpulan rumus cepat matematika yang benar dan akurat)
Penulis :
AbdulAziz, S.Si dan Muhammad Son Muslimin, ST
TESTIMONI
“Wow, Buku ini memberikan penyelesaian alternatif yang sangat cepat dan akurat “ –
Sarwadi Ph.D – ( Pembantu Dekan I Jurusan Matematika UNDIP)
” Buku ini menampilkan inovasi baru dalam menyelesaikan masalah matematika” – Dr. Widowati – ( Ketua Jurusan Matematika UNDIP )
”Buku ini memberikan penyelesaian yang cepat dan akurat tanpa meninggalkan kerangka teori yang ada ” –Farikhin M.Si –
(Dosen Luar Biasa UNDIP, Pakar International Mathematic Olympiad )
“ Buku ini penuh dengan kreativitas “
- Drs. Yitno Widya Saptono- (Ketua MGMP Matematika Kota Semarang)
” Kekuatan buku ini terletak pada kreativitasnya, sehingga bisa melengkapi kekurangan pada buku –
buku lainnya ” - Drs. Supriyanto - (ketua MGMP Fisika kota Semarang)
” Buku ini layaknya peta harta karun karena memuat rumus cepat dengan benar artinya rumus cepat karena kita benar – benar paham konsep
–Nanang Susyanto – Peraih
medali perunggu ajang IMC 2005 di Bulgaria
“Bukunya bagus....nggak cuma nampilin cara praktisnya aja tapi ada pembuktian rumus so nggak perlu ragu menggunakanya ”
Danang Setiabudi – SMA Taruna Nusantara – (
Peraih Medali Emas Bidang Matematika Ajang OSN 2006 dan 2007)
Buku yang bagus,tidak sekedar rumus cepat yang ditekankan melainkan bagaimana cara mencari rumus tersebut ”
Khoirulanam – Alumni SMA Semesta Semarang –
D Bogazici and D Metu University (Turki) (Peraih Medali Perak Bidang Matematika Ajang OSN 2007)
“ Bukunya hebat, penuh dengan soal – soal tantangan “
Ilman kurniadi Alumni SMA N 68 –Jakarta – (Mahasiswa Teknik Lingkungan ITB)
” Buku yang bagus, komplit,& gampang dimengerti...”
Yunita– Alumni SMA N 3 Semarang – ( Mahasiswi Farmasi UGM )
” Two tumbs up ! ga’ cuma tahu cara cepetnya aja, pembuktianya pun logis...pas buangeeet buat anak SMA.
Rahmat Adi Pamungkas – Alumni SMA N 5 Semarang – (Mahasiswa Tekhnik Elektro UNDIP )
“Bagi siapapun yang mencintai dan ingin mencintai matematika, wajib beli buku ini ”
Saraswati – Alumni SMA Kolose Loyola –
“ Buku ini layak dibaca bagi siapapun yang menginginkan belajar matematika secara menyenangkan “
Sartono Al Kadiri (Finalis Olimpiade mateamtika tingkat nasional 2006 )
Rumus luas jajaran genjang ini didapat dari bentuk berikut
Perhatikan bahwa jika L3 dipindahkan ke kiri maka bentuknya menjadi
Dari gambar terakhir ini jelas terlihat bahwa bentuknya menjadi sebuah persegi panjang dengan panjang a dan lebar t, sehingga luasnya menjadi
L = axt
Luas = alas x tinggi
Kenapa
ax.ay = ax+y?
Perhatikan bahwa
ax = a.a.a.a….a (sebanyak x)
ay = a.a.a.a….a (sebanyak y)
maka
ax.ay = a.a.a.a….a (sebanyak x). a.a.a.a….a (sebanyak y)
ax .ay= a.a.a.a….a (sebanyak x + y)
ax.ay = ax+y
Kenapa ax/ay = ax - y ?
Dengan memakai bentuk di atas maka
ax/ay = {a.a.a.a….a (sebanyak x)} : { a.a.a.a….a (sebanyak y)}
ax /ay= a.a.a.a….a (sebanyak x – y )
Kenapa ax/ay = ax – y
Kenapa ao = 1?
Perhatikan bahwa
ax – y = ax/ay
Jika kita pilih x = p dan y = p maka
ap – p = ap /ap
(Perhatikan
bahwa ruas kiri pangkatnya habis (nol), sedangkan ruas kanan pembilang dan
penyebutnya sama. Dengan demikian ruas kanan bernilai satu)
Jadi
ao = 1